My Blog List

Saturday, 13 March 2010

AKU DIPERAWANI ARYO (bag.1)

Di lokasi transmigrasi, dua rumah menjadi satu kopel. Antara satu kopel dengan kopel lainnya, agar berjauhan. Kami mau kesekolah juga agak jauh, berkisar 2 kilometer harus ditempuh dengan jalan kaki melintasi dua buah sungai kecil berair jernih. Di sungai yang tak jauh dari depan rumah kami, di sanalah aku dan anak2 lelaki di kampungku selalu mandi dan bermain di pancuran dekat sungai itu, kami mengambil air minum. Terkadang aku dan teman-teman suka menangkapi ikan sungai yang kecil-kecil. Ikan itu kami baker seadanya dan kami makan saja dan rasanya enak.

Tetangga di rumah sebelah (satu kopel) punya 1 anak lelaki bernama ARYO. Walau berbeda umur, tapi karena dia tetangga terdekat, kami jadi berteman dekat.

Suatu sore aku dan Aryo, kami mencari kayu api dari pohon yang sudah meranggas, untuk kayu bakar. Setelah mencari kayu, kami istirahat sebentar di tepi sungai tak jauh dari orang yang sedang mencuci pakaian. Di sana kami melihat sepasang monyet sedang melakukan sengama. Aku dan Aryo melihat monyet itu sambil tertawa-tawa kecil. Sengaja suara kami sekecil mungkin agar monyet itu tidak terganggu. Pada dahan itu, monyet jantan mengeluarkan kontolnya yang kemerahan. Dengan menggoyang-goyang pantatnya, kontol itu ingin memasuki memek si betina.

"Wah...kontolnya monyet jantan sudah masuk ke lobang pantat si betina," Aryo berbisik. (cerita hayalan disadur oleh hendyardana@gmail)

Ya.., tentu saja waktu itu kami mengira monyet itu melakukan lewat pantat karena kami melihat monyet jantan itu memeluk si monyet betina dari belakang dan sepertinya menekan-nekan pantatnya. Monyet betina kelihatan diam saja. Saat itu aku mulai gelisah. Aryo juga diam seribu basa menyaksikan kejadian itu. Entah kenapa, tahu tahu seperti tanpa sadar, Aryo memeluk bahuku. Dan aku otomatis balas memeluk dia juga.

"Kenapa ya, tititku berdiri," kataku. "Waduh, aku juga nafsu, kontolku juga ngaceng," kata Aryo. "Nih lihat," katanya, lalu Aryo tanpa bermaksud apa2 dia mengeluarkan kontolnya dari celah celananya.

WAH... Aku terkejut!, aku memang sering melihat titit Aryo setiap kali mandi disungai, tapi saat itu aku baru pertama kali aku melihat titit punya Aryo sedang ngaceng. Dan aku juga terkejut karena pada saat ngaceng, alat kelamin Aryo ternyata panjang dan ukurannya jauh lebih besar 2 kali lipat dibanding punyaku, tapi terus terang, saat itu aku belum terpengaruh apa apa melihat alat vital Aryo, seperti melihat tangan atau kaki saja rasanya.

"Kita antarkan kayu bakar, nanti mau kita coba main begituan yok di belakang rumah dekat pondok cebai?," kata Aryo polos, tanpa nuansa homo. Seperti tak sadar aku mengangguk setuju. Kami mengangkat kayu api kami dan pulang ke rumah, setelah lebih dulu kami mandi bersama di sungai kecil itu.

(cerita hayalan disadur oleh hendyardana@gmail) Setiba di rumah kami meletakkan kayu api kami. Ibu dan bapakku, baru saja pulang dari ladang. Mereka langsung membawa adikku ke sungai untuk mandi. Aku hanya mendapat tugas menjerang air. Setelah itu, Aryo mengajak aku ke gubuk cabai milik ayahku. Kami naik ke atas.

”Ayo kita main kawin-kawinan”. Aryo bilang dia pernah lihat bapaknya seperti netek ke tetek ibunya. Aku membuka bajuku. Tentu saja anak lelaki tidak punya tetek, tapi sudah tumbuh pentil. Pentilku masih kecil juga. Aku duduk di lantai dengan menjulurkan kedua kakiku. Aryo tidur di kedua pahaku. Aku menjulurkan tetekku ke mulut Aryo. Aryo mengisap-isap pentil dadaku yang kecil. Aku menggelinjang karena Ooh...rasanya ternyata enak sekali.

"Enak sekali, Yo. Terusin aja," kataku. Aryo mengisap-isap pentil tetekku. Aryo keheranan melihat aku sampai mengerang2 merasakan isepannya sehingga dengan gemas dia menggigit kecil. Terkadang terasa sakit, tapi ada nikmatnya juga.

"Sudah, sekarang kamu bapaknya, aku ibunya, kita main seperti kemarin" kataku. Dengan cepat kubuka celanaku. Dan kubukakan celana Aryo. Aryo memasukkan kontolnya ke dalam lobang pantatku. "Perlahan, Yo," kataku.

"Ayo kita mulai”, katanya "Tadi kamu sudah melihat kontolku. Aku mau melihat lobang pantatmu. Bolehkan?" Aryo meminta. Tanpa perasaan ragu atau malu, aku membuka celanaku. Aku menungging dan memperlihatkan lobang pantatku. "Lobangnya kok tertutup gitu? Memasukkannya gimana?" Aryo bertanya sambil jari2nya berusaha menguak bibir duburku!. . Sungguh!. Saat itu kami tidak terangsang secara seksual tapi hanya rasa penasaran dari cowok2 ABG yang masih lugu dan polos. Pikiranku dan pikiran Aryo juga tidak diisi oleh naluri seks sejenis...., semuanya berjalan wajar tanpa basa basi, tanpa perasaan bersalah.., tanpa aroma homo, hanya sekedar coba coba saja.

"Ayo dimasukin," kataku.

Heran!, aku yang masih lebih kecil, tapi justru aku yang ambil inisiatif: "Kamu masukinnya pelan-pelan ya," kataku.

Entah dapat inisiatif dari mana, Aryo meludahkan air lir dan membalurkan pada kontolnya, lalu tanpa disuruh aku membantu menggenggam kontolnya dan mengarahkan pada lubang pantatku lalu Aryo menekankannya.

Begitu kepala kontolnya merangseng ke lobang pantatku, menurut Aryo lobang pantatku panas dan enak di kepala kontolnya. "Aku tekan ya" katanya sambil membalurkan air ludah banyak2. Aku mengiakan. Tapi, Aryo menekannya tiba-tiba dan sekuat tenaga. Aku menjerit. Sreettt...., kontolnya terasa menembus lobang pantatku. Aku terhenyak kesakitan. Aku mendelik tak bisa nafas. Sakit, perih karena batang kontolnya yang besar merenggangkan lubang anusku secara paksa. Dapat kurasakan lobang pantatku tersumbat oleh sebuah benda kenyal yang terasa panas. “ …. sakit, sakit...”

"Udah dulu," kataku. Aryo diam. Aku merasa sakit sekali. Dan Aryo mencabut kontolnya, lalu memakai celananya. ”Aku sakit Yo” kataku ”Tapi aku enak banget, coba lagi yok?” kata Aryo "Besok lagi” aku menolak. Aryo terpaksa setuju. Persengamaan tidak selesai, tidak aku, tidak pula Aryo sampai ke klimaks. (cerita hayalan disadur oleh hendyardana@gmail)

Lalu kami meninggalkan pondok cabai dan kami ke sungai untuk mengambil air. Di sungai, aku ceboki lobang pantatku. Aku melihat celanaku ada sedikit tetesan berdarah. Aku mencuci celana dalamku. Aku tak memperlihatkannya kepada Aryo, khawatir kalau dia ketakutan.

Besoknya badanku demam dan lobang pantatku terasa panas seperti terbakar sehingga aku tak sekolah. Dua hari aku tak sekolah karean merasa lobang pantatku sakit. Hari ketika aku kembali sekolah berjalan peerlahan-lahan. Aryo bertanya, kenapa aku tak sekolah, aku katakan aku sakit demam. Memang tubuhku demam selama satu hari penuh, tapi aku tidak bilang lobang pantatku merasa ”terbakar”.

Lima hari setelah kejadian itu, kami mencari kayu bakar lagi atas perintah kedua orang tua kami. Kami mencari ke pinggiran sungai lagi. Mencari kayu-kayu yang meranggas, biar cepat bisa dibakar. Di pinggir sunagi kecil itu, ada sebuah batu besar yang ceper. Kami duduk di sana setelah mengumpulkan sepemeluk kayu bakar.

"Kamu sudah tidak sakitkan," tanya Aryo kepadaku. "Kenapa?" tanyaku. ”Kita coba lagi yok??” Tapi aku takut kesakitan lagi dan menolak, tapi gak disangka Aryo membujuk terus. "Ayo deh, kita main lagi di sini, yok," kata Aryo. Entah kenapa aku setuju. Batu itu berada di bawah pohon ketapang yang rindang. Pohon yang ditutupi beberapa pohon perdu yang kalau tak diperhatikan betul, orang tidak akan melihat kami. Aku membuka celana dalamku. Aryo membuka celananya.

Tapi aku tak langsung mau begitu saja. Aku lebih dulu meminta Aryo mengisap dan menjilati susuku, entah kenapa dihisap2 Aryo membuatku merasa enak sekali. . Aryo menyetujui dan dia menjilati susuku dan mengisap-isapnya. Aku kegelian dan enak. Tangan Aryo yang satu lagi menggerayangi dadaku. Putingku ditarik dan dipelintir keras. Auuuw, aku menjerit tertahan. Mataku mendadak jadi kunang2 dan badanku lemas, sementara jilatannya makin liar. Aku makin lemas karena putingku digigit. Dijilat. Aku menjerit dan mendesah, karena perlakuannya, tapi sekaligus berasa nikmat, tak kuasa melawan birahi membara yang baru pertama kualami didalam hidupku.

Aku meraba-raba juga lobang pantatku yang mulai terasa gatal...., aku heran kenapa setiap tetekku disusu Aryo maka pantatku jadi gatal?.

"Udah, dimasukin aja," kataku. ”Tapi kamu enggak apa-apakan?" Aryo memastikan. Aku mengangguk.

Kali ini Aryo menyuruh aku berbaring terlentang. Entah diajari oleh siapa, atau mungkin dituntun oleh naluri laki laki, Aryo berlutut diantara kedua pahaku lalu kedua kakiku diangkat dan ditariknya keatas dan ditumpangkan pada pangkal pahanya sendiri. Sehingga kini selangkanganku menjadi terbuka lebar mempertontonkan lubang anusku yang perawan Aryo membalurkan air ludah dan mengarahkan kontolnya ke lobang pantatku.

Dan perlahan-lahan kontolnya memasuki lobang pantatku. Terasa agak sedikit sakit, walau tidak seperti kali pertama dan kedua, mungkin karena aku sudah agak terlatih .

Setelah itu Aryo berusaha menekan kontolnya masuk lubang anusku. Terasa desakan kepala kontolnya menekan lubang anusku. “Aduuuh aduhh…”. Aku kesakitan

Tapi kali ini, Aryo mungkin sudah mulai bernafsu, dia tak terpengaruh oleh rintihanku yang kesakitan.

Perlahan terasa kepala jamur raksasa itu berusaha menerobos masuk, merobek lubang anusku yang masih perawan. Uuuuuugh… sambil menahan nafas, Aryo memaksa makin menekan kontolnya, tapi tetap saja nggak bisa masuk karena kepala kontolnya kegedean sedangkan lubangku sempit.

Dicabutnya kontolnya dan dioles lagi dengan ludah yang lebih banyak, membuat batang kontolnya makin licin basah mengkilat. Sambil duduk setengah berlutut menindih tubuhku, mulut Aryo mulai menjalari puting tetek di dadaku lagi sambil, kepala kontolnya menekan lubang anusku.

Nafas Aryo terdengar mendengus pertanda dia sangat bernafsu dan. Lidahnya menyapu putingku, dihisap, dimainkan, diplintir-plintir dengan lidahnya. Aku terlena, merasa enak.

Selagi aku keenakan, tiba-tiba Aryo menggigit putingku dengan keras, sambil menghentakkan pinggul, menekan pantatnya, agar kepala kontolnya menghujam masuk lubang anusku.... “Auuuw!”. Aku menggigit bibir kesakitan, merintih-rintih minta ampun.

Aryo agak membungkukkan badannya ke depan agar pantatnya bisa lebih leluasa untuk menekan lalu kontol Aryo ditekan lagi dan..... Hgggghhhhgghgh.... Aku kemmbali menjerit dan merintih kesakitan karena lubang anusku seakan dirobek paksa oleh kepala kontol raksasa miliknya. (cerita hayalan disadur oleh hendyardana@gmail)

Namun Aryo tak peduli, mili demi mili batang kontolnya secara pasti terus melesak ke dalam liang anusku dan dia terus menekan dan tessss .... aku merasa seperti ada yg robek dan terasa perih banget, bersamaan dengan itu aku melengking keras sekali dan tak terasa air mataku mengalir karena kesakitan.... ”Aaaaaa… aauuuuuuuuuuwwwwwww ....huk..huk...huu....huu… Sakit…. Sakit…. Ampun, ampun…"

Wah ada yang otot robek nih pikirku, sebentar lagi pasti keluar darah, namun Aryo sudah tak peduli lagi karena dia mulai merasa nikmat yang luar biasa saat otot liang anusku menjepit kepala rudalnya. Cengkeraman otot anusku begitu kuat seakan-akan kontol Aryo seperti diremas-remas saja. Sementara itu tak terasa aku terus menangis terisak-isak kesakitan, sementara Aryo sendiri malah merem melek keenakan.

Dipegangnya pinggulku dan ditarik kearahnya .. Dan hhhhhhhgg…. hghghhgghghgggkkkk.... Aryo menghentak keras ke bawah .... sssrtt… ccrrrrrrrttttt... crrtt... dengan cepat batang kontolnya mendesak masuk liang anusku, “Wwaaahhhgggghhh....”, Aryo mengerang nikmat, “Oooouugghhgh.... oooggggghhhh… hhhhhhhhhhhhh ...........", Aryo berteriak keras saking nikmatnya, matanya mendelik menahan jepitan ketat otot anusku yg luar biasa. Sementara aku hanya memekik kecil sambil memandang wajah Aryo yang merem melek keenakan.

Bibirku bergetar menahan sakit. Wajah Aryo terlihat begitu jantan menatap gemes kepadaku. Rambut dan tubuhnya basah kuyup karena keringat, menetes ke dada dan wajahku lewat ujung rambutnya. "Gilaaaaa, sempit banget lubangnya. Enak banget, gilaaaa.... ", bisiknya lirih sambil menyeringai nakal.

Aryo memeluk tubuhku, entah meniru bapaknya entah karena dorongan naluri, sehingga kami benar2 bagai 2 manusia telanjang yang sedang gancet, padahal kami berdua masih anak2 kecil.

2 comments: