My Blog List

Saturday, 13 March 2010

Petualangan Aji 2, Part 20

33

Epilog

Pagi Hari di awal bulan Januari 2003. Aku sedang asik menonton berita di Liputan 6 Pagi, sambil minum kopi dan makan roti berselai coklat. Hampir lima tahun sejak jatuhnya Suharto, 21 Mei 1998 lalu, kembali mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa besar. Meskipun belum sebesar Tahun 1998 itu. Unjuk rasa yang kini dilakukan oleh junior-juniorku ini, mengingatkanku akan masa-masa indah saat unjuk rasa di gedung MPR/DPR dulu.

Kontolku jadi ngaceng nih, hehe. Soalnya yang keingat adalah pergumulan seru yang pernah kulakukan disana. Jadi kebayang sama partnert- partnert sexku dulu nih. Dan, jadi kebayang sama Zaki! Ehm.

Oh, ya. Seperti yang sudah diketahui oleh semua, rencana Suharto membentuk Komite Reformasi dan me-ressuffle kabinetnya tak pernah terlaksana. Pagi itu, 21 Mei 1998, akhirnya Suharto mengabarkan berita gembira bagi 200 juta rakyat Indonesia. Ia menyatakan berhenti sebagai Presiden setelah 32 tahun berkuasa.

Pagi itu, kami meluapkan kegembiraan dengan beragai cara. Ada yang menyeburkan diri ke kolam di halaman gedung MPR/DPR. Ada yang menggunduli kepala sampai plontos. Ada juga yang bersujud syukur, seperti Zaki.

Ah, Zaki. Aku tetap saja merindukannya sampai kini. Fotoku bersamanya yang sempat terabadikan saat kejatuhan Suharto (aku sangat berterima kasih pada Irfan dalam hal ini, kamera yang dibawanya saat unjuk rasa ternyata bermanfaat juga buatku, hehehe), masih kusimpan sampai saat ini. Di foto itu kami berangkulan sambil tertawa bahagia. Tawa untuk kejatuhan Suharto. Dia merangkul bahuku, aku merangkul pinggangnya yang ramping. Aku masih ingat lekukan pinggang rampingnya yang berotot itu. Lekukan yang rasanya tak beda dengan apa yang pernah kumimpikan. Tak bisa kulupakan itu semua. Duh aku jadi terangsang lagi nih, mengingat pinggang itu, dan mengingat mimpi itu. Hanya sebuah mimpi, tak pernah terealisasi.

Kini, aku sedang PTT di sebuah Puskesmas di wilayah Bekasi. Sebentar lagi aku akan berangkat tugas, sarapan dululah supaya gak lemes. Sejak mandi tadi sarapanku sudah disiapkan, jadi aku tinggal makan doang.

Seperti diriku, teman-temanku umumnya juga sudah PTT. Malah sudah ada yang dokter dengan penempatan tetap, seperti Zaki misalnya. Anak itu memang deh, udah ganteng, alim, pinter lagi. Dia bertugas di RSCM, sorenya buka praktek di rumah kontrakannya.

Selesai Koas, Zaki langsung menikah dengan seorang mahasiswi dari Fakultas Ekonomi, temannya sesama aktivis islam di kampus dulu. Pilihannya memang oke deh, cuantikkk dan alim. Sudah pasti berjilbablah. Mereka sudah di karunia dua orang putra, ganteng kayak bapaknya. Hehehe. Aku suka menyambangi mereka di waktu luangku. Ngobrol-ngobrollah tentang dunia medis, sekaligus menikmati kebagusannya pasti, hehehe (lagi). Zaki dan istrinya aktif di kegiatan keislaman sampai sekarang. Sedangkan Ferdinand, teman akrabnya, masih PTT seperti diriku juga di Bogor.

Belakangan ini ia sering menghubungiku demikian juga sebaliknya aku sering menghubunginya. Aku tak mau munafik, bahwa aku sangat menikmati saat bermain cinta dengannya dulu. Tapi terus terang, sekarang ini aku menyesal atas perbuatan yang kami lakukan dulu. Aku merasa punya andil membuatnya menjadi orang bingung seperti sekarang. Dia tak berani untuk menikah. Katanya, takut mendua. Perasaannya suka sesama jenis semakin bertambah. Tapi dia juga tak berani untuk terjun ke dunia gay sepenuhnya.

Bertemu Zaki atau sekadar menghubungi Zaki pun tak berani dilakukannya kini. Meskipun penampilan luarnya masih alim seperti saat bersama Zaki, tapi Ferdinand bukanlah orang alim lagi. Dia mulai kembali menjadi dirinya yang dulu. Belakangan ini, secara sembunyi-sembunyi dia minum minuman keras saat suntuk memikirkan dirinya. Aku mengetahuinya saat mengunjunginya ke Bogor, satu waktu. Di kamarnya, ia mencurahkan kegundahan hatinya padaku sambil merokok dan minum minuman keras tak lepas. Ketika mabuk ia mengajakku untuk bermain cinta. Aku menolaknya dengan halus. Aku tak mau menjerumuskannya lagi. Ia marah-marah padaku dalam mabuknya. Ia mengoceh bahwa aku telah menjerumuskannya. Aku sangat sedih mendengarnya. Saat tertidur setelah capek mengoceh aku hanya bisa menangis melihatnya, menyesali apa yang pernah kulakukan dulu. Sungguh aku sangat jarang menangis, tapi melihat keadaan Ferdinand aku benar-benar tak sanggup menahan titik air mataku.

Saat ia tak mabuk, aku selalu menyemangatinya. Aku berjanji akan selalu ada untuk menyemangatinya. Selalu ada untuk mendengarkan segala curhatnya. Karenanya bila ia menelponku berlama-lama aku selalu melayani. Bila ia tak menghubungiku beberapa hari saja, aku langsung menghubunginya. Mungkin hanya inilah cara yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku padanya dulu. Aku selalu berharap dan berdo’a agar Ferdinand dapat terbebas dari kebingungannya, segera. Aku tak mau Ferdinand jadi seperti Andreas.

Ah, Andreas. Cowok itu kudengar meringkuk di rumah sakit jiwa kini. Jadi orang gila. Ia tertangkap basah oleh Fiona, pacarnya, saat sedang menggumuli Rosa, Setyo, dan Bimo sekaligus! Fiona sempat shock untuk waktu yang cukup lama. Untunglah akhirnya ia bisa juga menyelesaikan kuliahnya. Insiden memalukan itu terjadi di villa Bimo, saat mereka rekreasi seperti biasanya. Gara-gara insiden itu genk centil pun bubar, dan semua anggotanya tak pernah bertegur sapa lagi sampai saat ini. Andreas stress. Hingga kemudian menjadi gila karena tak tahan menanggung malu, karena peristiwa itu akhirnya menyebar juga ke seluruh kampus. Setelah peristiwa itu menyebar, anggota genk centil, selain Fiona, sangat malu hati bila bertemu dengan mahasiswa-mahasiswi lain di kampus. Kudengar Bram beberapa kali sempat mengunjungi Andreas di rumah sakit jiwa saat masih kuliah kemaren. Meskipun ia membenci Andreas, namun Bram sangat kasihan pada bekas teman akrabnya itu.

O ya, Bram juga sudah menikah lo. Bulan Nopember 2002 lalu. Dengan Margaretha tentu saja. Tak mau jadi Dokter Pemerintah, mereka berdua mengelola klinik di Semarang. Pulang kampung nih ceritanya, hehe. Bram ini nakal juga, meski sudah menikah dengan Margaretha namun dia tetap menjalin hubungan dengan Irfan, yang kini bekerja di sebuah Perusahaan Asing di Jawa Timur. Rencananya, pertengahan tahun ini Irfan akan akan menikah dengan seorang gadis bule, rekan kerjanya di perusahaan tempatnya bekerja. Pernikahan Irfan tak memutuskan hubungan dua cowok itu. Saat kami ngobrol bertiga melalui telepon dari tiga kota yang berbeda, mereka mengatakan padaku akan tetap melanjutkan hubungan sampai maut memisahkan mereka, hehehe. Dasar biseks tulen. Ah, biarlah, itu urusan mereka. Pesanku pada keduanya agar berhati-hati. Jangan sampai seperti Andreas.

Ricky, ia sedang mengambil Program Dokter Spesialis saat ini. Anak itu tak punya niat untuk menikah mungkin. Setahuku sampai sekarang ia masih terus bergonta-ganti cewek disamping memuaskan birahinya dengan cowok-cowok melalui kelompok belajarnya. Tempo-tempo tertentu bila bertemu, dia pasti mengajakku untuk bergabung kembali dengan kelompok belajarnya. Namun ajakannya selalu kutolak dengan halus.

Mas Doni dan Dino sudah kembali ke Australia. Keduanya belum menikah. Saat ini keduanya bekerja disana. Ternyata Dino tak berjodoh dengan Grace. Setelah berpacaran lama sejak SMA, akhirnya keduanya putus secara baik-baik. Tak ada kecocokan, alasannya. Tak ada kaitannya dengan hubungan Dino dan Kevin. Grace sudah menikah, dengan anak dari rekan bisnis papanya. Pasangan itu tinggal di Pondok Indah kini. Kevin tetap setia ikut Dino di Australia. Alasannya ingin mandiri, hehehe. Aku yakin, tiga cowok itu pasti selalu memuaskan birahi disana.

Tau enggak, saat aku sibuk di Gedung MPR/DPR tahun 1998 lalu, tiga cowok gila sex itu rama-rame ngerjain si Sony, satpam temennya si Jono. Mendengar cerita mereka, akhirnya nafsuku untuk mengerjai si Sony jadi buyar. Buat apa ngerjain cowok itu lagi, keperjakaannya sudah direnggut. Lobang pantatnya pasti sudah dobol dihajar tiga batang kontol besar milik Mas Doni, Dino, dan Kevin.

Di layar televisi kulihat Mahasiswa sedang bernegosiasi dengan Polisi. Jadi teringat Mas Romi dan Andri. Mereka berdua tak pernah kutemukan lagi sampai saat ini. Ketika teman-temanku asik meluapkan kegembiraan atas berhentinya Suharto, 21 Mei 1998 lalu, aku berusaha mencari mereka bahkan sampai ke pos jaga mereka malam itu. Tapi mereka sudah tak ada. Aparat kepolisian yang bertugas sudah berganti dengan kelompok lain. Apa yang kami lakukan hanya sebatas one nigth sex rupanya. Tak apalah, itupun sudah cukup.

Mbak Ayu, aku jarang bertemu dengannya kini. Kalaupun bertemu paling saat aku mengunjungi Bapak dan Ibu Arifin Wijaya di rumah mereka. Aku sudah tidak tinggal bersama mereka lagi sekarang. Selama PTT ini aku ngontrak rumah di sebuah Kompleks Perumahan di Bekasi, tak terlalu jauh dari Puskesmas tempatku bertugas. Tentu saja aku tak tinggal sendirian disini. Aku bersama dengan seseorang yang sangat kucintai.

“Sarapannya udah dihabisin belum, sayang?” sebuah ciuman mesra mendarat di pipiku. Harum parfumnya menari-nari di hidungku. Menyegarkan. Rambutnya yang panjang menyentuh pipiku. Kubalas ciumannya dengan mencium pipinya juga, lembut, penuh cinta. “Udah Yulia sayang, siap untuk berangkat?” tanyaku pada Yulia, Yulia Ariyani Dwi Maharani, istriku yang cantik.

“Siap dong,” jawabnya sambil merapikan baju putih dokternya. Dialah kini yang menemani keseharianku. Roti berselai coklat dan kopi manis yang sudah kuhabiskan ini, adalah buatannya. Semenjak kami menikah, semuanya istriku yang mengerjakan. “Saat ini aku kan belum terlalu sibuk, biarlah aku yang mengurusimu. Nanti kalau aku sudah sibuk, aku tak punya kesempatan lagi untuk mengurusimu sayang,” katanya suatu kali padaku. Kalau nanti dia sudah tak ada waktu lagi untuk mengerjakan semuanya, seperti sekarang, barulah dia akan mencari pembantu rumah tangga. Istriku ini juga seorang dokter sepertiku. Kami sama-sama PTT di Bekasi. Aku tahun kedua, sedangkan dia tahun pertama. Perkenalanku dengannya tak disengaja. Meskipun satu kampus, kami tak pernah bertemu saat kuliah dulu. Aku bertemu dengannya di chatting, saat internet mulai marak di Indonesia awal Tahun 1999.

Setelah enam bulan berkenalan di dunia maya, akhirnya kami memutuskan untuk bertemu. Saat pertama melihatnya, aku langsung jatuh cinta. Ternyata cintaku padanya tak bertepuk sebelah tangan. Ia menyambut cintaku. Setelah koasku selesai, dua tahun lalu, kami kemudian menikah. Saat itu Yulia belum menyelesaikan koasnya. Pernikahan kami dilangsungkan dengan sebuah resepsi yang sangat megah dan meriah. Semuanya atas fasilitas dari Bapak dan Ibu Arifin Wijaya. Aku sungguh-sungguh sangat banyak berhutang budi pada keduanya. Mereka benar-benar baik padaku. Terus terang, meskipun sudah menikah, perasaan birahi di diriku ini pada sejenis, belum hilang seluruhnya. Perasaan itu seringkali muncul tiba-tiba di benakku. Apalagi saat aku teringat akan Zaki. Namun, saat perasaan itu muncul, aku lebih bisa menahan diri sekarang.

Sejak pacaran dan kemudian menikah dengan Yulia, hanya tiga kali aku ngentot dengan cowok. Itupun dengan Dino dan Mas Doni, saat mereka pulang ke Indonesia. Aku tak sanggup untuk menolak mereka. Tapi, setelah aku menikah dengan Yulia, nampaknya keduanya lebih mengerti situasiku. Mereka tak pernah mengajakku ngentot lagi bila bertemu. Aku sangat berterima kasih untuk pengertian mereka. Saat ini, aku bertekad kuat untuk bisa menghilangkan perasaan itu. Paling tidak, meskipun rasa itu tetap ada, biarlah hanya sekadar rasa di jiwa. Aku tak mau lagi meningkatkannya menjadi pergumulan penuh birahi dengan cowok. Mudah-mudahan aku bisa. Kalau boleh, doakan aku ya.

TAMAT

1 comment: