My Blog List

Saturday, 13 March 2010

Petualangan Aji 2, Part12

Akhirnya aku baru tiba di kampus pukul 9 malam. Segera aku menemui teman-temanku di salah satu ruangan kampus, base camp kelompok kami. Aku hanya nyengir ketika teman-teman nasionalisku “marah-marah” padaku. Terutama si Yuda sang ketua. Katanya aku tidak tepat janji. Brifing untuk persiapan aksi besok sudah usai sejak satu jam yang lalu. Mau apalagi, kudengarkan saja “kemarahan” mereka, memang aku yang salah. Janji pulang sebentar apa daya baru bisa kembali malam hari. Dino sih, masak aku dirangsangnya tadi. Bram yang juga ada disitu hanya senyum-senyum melihatkau “dimarahi”.

Setelah acara “marah-marah” padaku usai, aku mengajak Bram menyingkir dari teman-teman. Kami mencari tempat untuk duduk didepan ruangan base camp. Aku tanyakan padanya apa hasil brifing tadi. Sambil merokok Bram menerangkan rencana aksi besok. Katanya besok tanggal 18 Mei 1998, rombongan mahasiswa akan mendesak pimpinan DPR/MPR menyerukan agar Suharto mengembalikan mandat yang diberikan MPR padanya.

“Kemana aja kamu sih kamu tadi Ji?” tanya Bram setelah ia menuntaskan keterangannya tentang rencana aksi besok hari padaku.

“Di rumah saja Bram. Tadi Bapak menyuruhku untuk makan malam di rumah, aku gak enak menolaknya,” alasanku. Bibirku menghembuskan asap rokok ke udara. Bram mengangguk-angguk maklum. Dia sudah mengetahui siapa diriku. Sebenarnya teman-temanku yang lain juga maklum tentang diriku, tapi ya tetap saja aku kena marah juga karena ingkar janji. Tak apalah. Lagipula mereka marahnya juga gak serius-serius banget kok.

Banyak juga mahasiswa yang menginap di kampus. Mereka datang dari berbagai kelompok aksi yang berbeda. Selama unjuk rasa, kampusku berubah menjadi rumah bagi mahasiswa. Banyak yang tidur disini. Tidak hanya cowok, cewek juga banyak. Malah kalau malam banyak yang tidur berpasang-pasangan. Jangan kaget kalau di tengah malam menemukan pasangan cowok dan cewek berpelukan sambil berciuman penuh nafsu di sudut-sudut gelap kampus.

Tingkat kecuekan sangat tinggi disini. Tak usah heran pula bila tengah malam terdengar suara rintihan. Itu bukan suara hantu penunggu kamar mandi, tapi suara dua insan sedang mengarungi bahtera nafsu. Maklum sajalah seusia kami ini kan tingkat birahinya sedang berada pada puncaknya. Tempat-tempat gelap dan tersembunyi cukup banyak sehingga membuka peluang untuk itu.

Tidak hanya persetubuhan insan lain jenis terjadi. Permainan cinta dua insan sejenis pun berlangsung. Meskipun tempat melakukannya memang sangat tersembunyi. Malam kedua menginap, aku dan Bram memergoki Andreas dan Bimo make love di rimbunan semak-semak belakang gedung yang sangat gelap. Sangat jarang ada yang datang kesana di siang hari sekalipun, apalagi malam hari.

Niatnya malam itu kami berdua memang pengen ngesex. Horny banget cing. Sejak aksi unjuk rasa makin marak, aku gak pernah ngentot lagi dengan cowok. Kesibukan unjuk rasa menyebabkanku terlupa melakukan aktivitas itu. Hari kedua kegiatan tidak terlalu banyak. Karena itu wajar saja kalau nafsuku bangkit. Apalagi sorenya aku sempat mandi bareng dengan Bram di kamar mandi. Karena yang mandi banyak, sementara ruangan kamar mandi terbatas akhirnya banyak yang mandi bareng dalam satu ruang kamar mandi. Tak ada yang curiga. Tapi karena diruangan sebelah juga ada yang mandi kami tak bisa menuntaskan hasrat jadinya. Kalo terdengar kan bahaya. Sambil mandi aku dan Bram hanya saling meremas kontol saja.

Pukul 1 pagi, ketika suasana sudah sangat sepi kami segera menuju belakang gedung. Rimbunan semak di belakang gedung merupakan tempat yang sangat tepat untuk itu. Saat kami tiba disana terdengarlah suara erangan. Erangannya pelan sekali. Kami keduluan rupanya. Kami segera mencari sumber suara itu. Pengen tau siapa yang sedang ngentot. Betapa terkejutnya kami, terutama Bram, saat menemukan bahwa erangan itu berasal dari Andreas dan Bimo yang sedang in action penuh nafsu. Beralaskan koran, Andreas mengentoti Bimo yang nungging mengangkang. Gila banget si Andreas ini, banci kayak gitu juga diembatnya. Birahi Bram hilang seketika menyaksikan peristiwa itu. Ditariknya tanganku, mengajakku segera meninggalkan tempat itu. Bram bersungut-sungut, kesal pada Andreas. “Sampai mati gua gak mau ngentot lagi dengannya!” kata Bram. Aku hanya tertawa geli melihat tingkahnya.

Bram tidak bisa tidur malam itu. Aku menemaninya sambil terkantuk-kantuk. Sudah berbatang-batang rokok dihisapnya. Menjelang pukul 3 dinihari Andreas dan Bimo muncul berdua. Selama unjuk rasa Bimo dan genknya memamng ikut menginap di kampus. Menemani Fiona kata Andreas. Soalnya Fiona juga ikut menginap disini. Bimo segera masuk ke ruangan. Sepertinya dia pengen langsung tidur. Kulihat dia sangat kelelahan memang. Andreas yang melihat kami berdua duduk sambil merokok mendatangi kami. Tanpa merasa bersalah dia langsung duduk disebelah Bram. Rambutnya basah. Pasti karena keringat yang keluar saat ia ngentot dengan Bimo tadi.

Saat ia mengambil bungkus rokok, tiba-tiba Bram menarik kerah baju Andreas membuat cowok ganteng itu terdongak. Kelelahan setelah memacu birahi tadi membuat Andreas hanya bisa terbengong ketika Bram menonjok mukanya. Tak ada perlawanan. Kuatir situasi memanas dan bisa membuat mahasiswa yang lain heboh, kutarik mereka menjauh dari situ. Kutarik mereka ke depan kamar mandi.

“Ada apa Bram?” tanya Andreas bingung.

“Dasar gak tau malu, si Bimo yang banci itu kok bisa-bisanya lo embat juga,” bentak Bram. Andreas segera memahami situasi. Tertunduk malu dia hanya diam, dihempaskannya tubuhnya ke lantai. Duduk sambil meremas rambut kepalanya sendiri.

“Sorry Bram...” katanya lirih.

“Kamu bilang muak dengannya. Munafik!” Bram benar-benar marah. Aku hanya diam memandangi mereka berdua bergantian.

Tetap menunduk, Andreas bercerita kenapa dia melakukannya dengan Bimo. Malam itu dia sangat horny. Sedangkan Fiona yang juga menginap, tak bersedia melayaninya. Ngantuk, kata Fiona. Meskipun Andreas sudah mencoba merayu, tetap saja Fiona tak hendak. Karena horny banget, setelah Fiona tertidur, Andreas mendatangi Bimo yang sudah tidur dengan genk bancinya. Sebelumnya Andreas sudah pernah sering melakukannya dengan Bimo juga rupanya.

“Berarti lobang pantat elo sudah sering di jilatin si banci itu?! Mau muntah rasanya membayangkan kontol gua masuk ke lobang pantat elo!” bentak Bram mendengar Andreas sudah pernah melakukannya dengan Bimo jauh-jauh hari.

“Kok bisa sih Ndre?” tanyaku duduk disebelahnya. Andreas bercerita, sejak berpacaran dengan Fiona, dia memang sering jalan-jalan bareng dengan Fiona dan teman-temannya satu genk yang centil-centil itu. Meskipun Andreas secara sah adalah pacar Fiona, namun teman-temannya itu tetap saja suka menggoda Andreas di belakang Fiona. Godaan mereka gak ada aturan, sering nyerempet-nyerempet pada hal-hal yang membangkitkan birahi. Misalnya saat mereka berenang bareng-bareng di rumah Uci. Tanpa sepengetahuan Fiona, teman-temannya yang kalau berenang pasti menggenakan bikini yang minim banget, suka mencoel batang kontol Andreas dibalik celana renangnya yang kecil. Termasuk juga si Bimo, Gita, dan Setyo yang gak tau diri itu. Tapi selama itu Andreas selalu menahan diri. Hingga akhirnya satu kali mereka rame-rame piknik ke Puncak. Siang hari ketika tidur-tidur ayam di sofa ruang tamu villa milik Bimo tiba-tiba Reny mendatangi Andreas. Tanpa permisi cewek cantik dan sexy itu sudah duduk di tepi sofa asik mengulum batang kontol Andreas.

“Ren, gila kamu,” kata Andreas terbangun dari tidurnya, kaget.

“Alah, nikmatin aja Ndre. Mumpung Fiona lagi pergi,” kata Reny cuek. “Gua gak akan minta elo jadi suami gua deh,” katanya. Rupanya Fiona, Rosa, Uci, Gita, dan Setyo sedang jalan-jalan dengan mobil Bimo mencari makanan buat ngemil nanti malam. Yang tinggal di villa cuma Reny dan Bimo. Karena memang maniak sex akhirnya Andreas membiarkan Reny melakukan kehendaknya. Sekejap saja mereka sudah ngentot tanpa peduli melakukannya dimana.

“Elohh benerhh-benerhh perkasahhh Ndrehhh,” kata Reny dalam erangannya. Berbarin telentang di sofa memeknya dihajar kontol Andreas dengan buas. Sedang asik-asiknya ngentot, tiba-tiba Andreas dikagetkan oleh sebuah kilatan cahaya lampu. Segera dilepaskannya tubuh Reny. Dihadapan mereka berdiri Bimo berkacak pinggang.

“Ckkk...ckkk... hebat deh. Pacar sedang pergi eh..malah ngentot dengan temen pacar,” kata Bimo dengan kenesnya. Ditangan kirinya menggantung kamera saku. Andreas benar-benar mati kutu. Bimo telah mengabadikan persenggamaannya dengan Reny tadi. Reny hanya tertawa-tawa nakal sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan.

Akhirnya dengan terpaksa Andreas harus mengentoti keduanya bergantian. Sebab Bimo mengancam akan menyerahkan foto itu pada Fiona bila Andreas tidak mau ngesex dengannya. Reny dan Bimo bener-bener gila sex. Tiga kali Andreas dipaksa orgasme melayani mereka. Besoknya gantian Andreas harus mengerjai Uci, Rosa, Gita, dan Setyo sementara Fiona dibawa pergi oleh Bimo dan Reny. Rupanya keenam sahabat Fiona ini sudah merencanakan untuk bisa mengentot dengan Andreas.

Sepulang dari piknik Andreas akhirnya menjadi budak nafsu keenam sahabat Fiona bergantian. Bila Andreas tak bersedia, maka mereka mengancam akan menunjukkan foto bejat itu ke Fiona. Karena memang doyan ngesex, Andreas bersedia saja melayani keinginan mereka meskipun sebenarnya dia hatinya kurang suka karena sebenarnya dia tidak mau berselingkuh.

“Kugampar banci-banci itu,” kata Bram berang.

“Jangan Bram. Gua gak mau putus sama Fiona. Sementara ini gua masih sayang sama dia,” kata Andreas menghiba. Mendengar cerita Andreas aku bersyukur atas keputusanku untuk tidak mendekati Rosa. Ternyata dibalik wajahnya yang lugu, Rosa bejat juga. Meskipun aku gila sex, tapi aku tidak suka berbuat kejam seperti mereka.

Meskipun sejak kejadian itu Bram dan Andreas tetap bersahabat, namun Bram bertekad tidak mau lagi melakukan hubungan badan dengan Andreas. Dan sejak malam itu ia selalu mengintiliku. Karena selalu bersamanya, akhirnya aku kurang komunikasi dengan Zaki dan Ferdinand. Sebab mereka bertiga ini kurang cocok satu sama lain. Lagipula bila bersama Zaki dan Ferdinand percuma saja, aku tidak bisa memuaskan nafsu. Sejak persenggamaan kami yang pertama di rumahnya kemaren dulu, Ferdinand selalu menghindar bila kupancing ke arah sex. Sepertinya dia berusaha untuk melupakan itu semua.

“Gimana Mas Polisi yang kamu bilang cakep itu Ji? Udah ada perkembangan?” tanya Bram membuyarkan lamunanku tentang Andreas.

“Polisi yang mana Bram?” tanyaku.

“Gimana sih? Kamu kan yang bilang ada Polisi cakep yang bikin kamu nafsu. Katanya mau ngasih tunjuk aku orangnya yang mana. Kok sampe sekarang belom ditunjukin juga?” tanya Bram. Tangannya mencuri-cuei kesempatan mencolek selangkanganku.

“Gila kamu Bram. Rame gini,” aku segera menepis tangannya.

“Hehehe,” Bram nyengir. “Gimana dong Polisinya?”

“Masih belum ada perkembangan Bram. Sampe sekarang kami masih sering bersitegang aja kalo ketemu,” kataku.

“Yang mana sih orangnya?” tanya Bram penasaran. Kemudian kami asik membahas cowok itu, tentu saja sambil berbisik-bisik, takut ketahuan mahasiswa lain. Kalo ketauan kan bisa berabe, hehehe. Panjang juga pembahasan kami mengenai polisi itu. Lengkap, terutama di sekitar fisiknya. Setelah lelah ngobrol sambil merokok, akhirnya aku dan Bram masuk kedalam base camp tidur diantara teman-teman lainnya.

Bersambung............

No comments:

Post a Comment

Post a Comment