My Blog List

Saturday, 13 March 2010

Cerita Remaja, Part 1

BAB I PERKENALAN

Siapa yang tak kenal Andre? Si cowok populer di SMU Dwi Warna. Tinggi, ganteng, atletis, ramah, kaya namun tidak sombong. Jabatannya banyak mulai dari Ketua OSIS, Komandan Paskriba, Ketua PMR, sampai Ketua Kelas pun dia pegang. Andre jago segala jenis olah raga yang ada di sekolah. Basket dia bisa, voli juga, sepak bola apalagi, renang top, dan, belum pernah ada yang sanggup mengalahkannya di lapangan tennis. Bila ada acara pertandingan olah raga di sekolah, sudah dapat diprediksikan Andre akan jadi bintang lapangan.

Seluruh manusia di sekolah sangat membanggakannya. Para guru sangat menyayanginya. Nama SMU Dwi Warna harum dengan prestasi olah raga karena kepiawaian Andre.

Kelebihan yang dimilikinya itu membuat kelemahan Andre dalam bidang akademik tertutupi. Guru-guru tak ada yang mempermasalahkan kemampuan Andre yang pas-pasan dalam pelajaran. Meskipun ia kurang menguasai matematika dan fisika, tetap saja Andre bisa duduk di kelas 3 IPA saat ini. Tidak mendidik memang, namun begitulah kenyataan yang dinikmati Andre di sekolah.

Meski suka gonta-ganti cewek di sekolah, Andre tidak pernah mendapatkan julukan playboy. Hampir semua cewek cantik di sekolah sudah pernah dipacari oleh Andre. Tidak satupun cewek mantan pacar Andre yang kecewa atau marah karena diputuskan olehnya. Meskipun keputusan Andre untuk memutuskan cewek itu karena ia punya gandengan baru di sekolah. Menjadi pacar Andre, meski hanya dalam waktu dua minggu saja sudah sangat membahagiakan cewek-cewek itu. Bila Andre bertanding olah raga, maka semua mantan pacar Andre itu akan duduk beramai-ramai di tepi lapangan memberikan dukungan padanya. Bersorak-sorai meriuhkan suasana. Jangan heran kalau di tepi lapangan akan menemukan beberapa cowok yang keki melihat aksi sorak-sorai cewek-cewek itu. Gimana gak keki, cewek yang penuh semangat bersorak-sorai mendukung Andre, saat ini adalah pacar dari cowok yang keki itu.

Menurut informasi yang beredar di kalangan umum, saat ini yang berstatus pacar Andre adalah Cindy. Masih duduk di kelas 1 SMU Dwi Warna dan dua bulan lalu baru saja dinobatkan sebagai cover girl sebuah majalah remaja terkenal. Keesokan hari setelah malamnya dinobatkan sebagai cover girl, Cindy sah menyandang predikat cewek Andre yang ke sekian. Dasar si Andre.

Hari-hari menjelang masa kelulusan hampir tiba. Segala kesibukan kegiatan olah raga dan ekstra kurikuler lainnya dihentikan bagi siswa-siswi yang duduk di kelas 3. Tiada hari tanpa kegiatan belajar di SMU Dwi Warna. Sore hari seusai pulang sekolah, siswa-siswi kelas 3 masih harus tinggal di sekolah untuk mendapatkan bimbingan tambahan dari para guru. Tak ada waktu lagi buat Andre dapat menunjukkan kepopulerannya. Tak ada waktu bagi mantan-mantan cewek Andre untuk bersorak-sorai baginya. Tak ada waktu bagi Cindy untuk bisa memamerkan Andre pada teman-teman modelnya. Andre sibuk dengan pelajarannya. Pusing dengan kenyataan bahwa dia sangat tertinggal pada pelajaran di sekolah. Terutama pelajaran fisika.

“Ndre, kamu harus belajar lebih giat lagi nak,” kata Pak Simangunsong, guru fisika Andre, suatu sore di ruangan guru, seusai bimbingan pelajaran fisika. “Saya perhatikan, dalam dua minggu kegiatan bimbingan ini kemampuan fisika kamu masih jauh dari rata-rata. Kalau begini terus, Bapak kuatir, kamu tidak lulus ujian nanti.”

“Mohon dibantu Pak,” kata Andre pelan.

“Sebetulnya, Bapak sangat ingin membantu kamu. Semua guru yang lain Bapak yakin juga begitu. Tapi sebagaimana kamu pahami, ujian akhir itu dilangsungkan secara nasional. Tidak ada yang bisa membantumu selain dirimu sendiri nak. Karena itu kamu harus lebih giat belajar,” jawab Pak Simangunsong dengan dengan logat bataknya yang kental. Matanya menatap lurus ke wajah bagus Andre.

“Apa yang harus saya lakukan Pak? Saya sudah berusaha belajar sendiri dengan giat. Buku-buku sudah saya baca semua. Tapi susah sekali saya memahami apa yang saya baca Pak,”

“Menurut Bapak, kamu harus lebih banyak belajar. Salah satunya dengan belajar bersama seorang kawan yang bisa membantu kamu memahami pelajaran,”

“Apa bisa begitu Pak?”

“Biasanya belajar bersama lebih efektif. Coba kamu ajak kawan dekat kamu belajar bersama. Kamu kan tahu siapa kawan kamu yang pintar dalam pelajaran fisika,”

Andre sibuk memikirkan siapa kawan dekatnya yang pinter dalam pelajaran fisika. Namun ia tak menemukan, “Saya kurang tahu Pak. Selama ini saya kurang dekat bergaul dengan teman-teman yang kutu buku Pak. Hehehe. Teman-teman dekat saya, ya yang biasa aktif di olah raga Pak,” katanya akhirnya pada Pak Simangunsong sambil nyengir.

“Hmm, begitu ya. Kalau begitu, nanti Bapak carikan kawan yang bisa membantu kamu,” tanggapan Pak Simangunsong dengan tetap penuh kewibawaan.

“Terima kasih Pak,”

Andre meninggalkan Pak Simangunsong dengan gontai. Pusing memikirkan apa yang akan terjadi bila dia tak lulus ujian. Cita-citanya untuk kuliah di Akademi Militer seusai SMU bisa kandas.

Esoknya, seusai bimbingan tambahan, Pak Simangunsong kembali memanggil Andre ke ruangan guru. Pak Simangunsong sedang berbicara dengan seorang murid, cowok, saat Andre tiba. Dari tempatnya berdiri di pintu ruang guru, Andre tidak dapat melihat siapa cowok itu, karena posisi duduknya yang memunggungi Andre.

“Eh, kamu sudah datang Ndre. Silakan duduk,” Pak Simangunsong menyadari kehadiran Andre, cowok ganteng itu dipersilakannya duduk tepat di sebelah cowok yang tadi sedang berbicara dengan Pak Simangunsong. “Ini Calvin, katanya dia pernah sekelas dengan kamu di kelas 1 dulu,” Pak Simangunsong memperkenalkan cowok itu pada Andre.

Andre melirik pada cowok bernama Calvin yang sedang duduk dengan wajah menunduk itu. Meskipun sudah berusaha mengingat masa-masa ketika duduk di kelas 1 dulu, tetap saja Andre tak bisa mengingat apakah pernah berkenalan dengan cowok berkulit putih bersih dengan tubuh ramping namun atletis dan berkaca mata minus yang sedang duduk disampingnya ini. Dalam memorinya tak ada satu data pun tentang Calvin.

“Tentu saja ingat Pak, masak sama teman satu kelas tidak ingat,” jawab Andre berbohong pada gurunya. Mendengar jawaban Andre, perlahan-lahan Calvin mengangkat wajahnya untuk kemudian menatap samping wajah bagus milik Andre yang sedang menghadapkan wajahnya lurus ke arah Pak Simangunsong. Calvin tak percaya kalau Andre ingat padanya. Seingat Calvin, meskipun di kelas 1 dulu ia pernah sekelas dengan Andre, namun tak pernah sekalipun mereka pernah berbicara. Tak ada kegiatan yang pernah mereka lakukan bersama-sama. Andre sibuk dengan aktifitas ekstra kurikulernya, sedangkan Calvin sibuk dengan olimpiade fisikanya.

Calvin tak pernah punya keberanian untuk mendekat apalagi bergaul dengan cowok tampan yang paling populer di sekolah itu. Sejak kelas 1 dulu hingga saat kelulusan hampir tiba, yang berani dilakukan Calvin selama ini hanya mencuri-curi pandang atau menatap Andre dari jauh. Memuaskan tatapannya pada cowok tampan yang entah kenapa sangat dikaguminya itu.

Ketika Pak Simangunsong memanggilnya tadi pagi, dan menyampaikan padanya bahwa ia dimintakan tolong untuk membantu Andre dalam pelajaran fisika, Calvin benar-benar tak dapat mempercayai hal itu. Barulah ketika Andre duduk disampingnya saat ini, Calvin dapat yakin bahwa akhirnya ia dapat berdekatan dengan cowok populer ini.

“Kalau begitu baguslah. Karena kalian sudah saling mengenal, selain itu rumah kalian berdekatan, jadi lebih mudah buat kalian untuk memulai belajar bersama. Silakan kalian tentukan sendiri waktu dan tempat untuk belajar bersama,” kata-kata Pak Simangunsong membuyarkan lamunan Calvin tentang Andre. Pembicaraan usai. Andre dan Calvin berjalan beriringan ke luar dari ruangan guru. Terdiam, kaku karena belum saling mengenal.

Calvin tak bisa tidur malamnya. Padahal jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Diatas ranjangnya yang empuk, ia menatap lurus ke langit-langit kamarnya. Matanya tak mengantuk. Ia masih teringat kecanggungan yang dirasakannya sore tadi saat Andre mengantarnya pulang dengan sepeda motor Tiger 2000 nya. “Peluk pinggang gue erat-erat Vin. Supaya elo gak jatuh. Soalnya gue kalo bawa motor gak bisa gak kenceng,” kata Andre padanya.

Sepanjang jalan menuju tempat tinggalnya di sebuah kompleks perumahan kawasan Bintaro, jantung Calvin bergemuruh kencang. Ia benar-benar grogi duduk sedemikian rapat dengan cowok ganteng bertubuh harum menyegarkan itu. Punggung lebar Andre yang empuk berotot bersentuhan rapat dengan dadanya yang cukup bidang. Telapak tangannya mencengkeram kuat perut Andre yang rata, keras, dan berotot. Sedangkan kontolnya beradu rapat dengan buah pantat Andre yang bulat empuk. Sepanjang jalan Calvin kuatir Andre merasakan perbesaran ukuran kontolnya yang menempel erat di buah pantat itu.

Sesampainya di rumah Calvin, tak ada satu kalimatpun dari Andre yang menyinggung soal perbesaran kontol Calvin. “Kalau bisa belajar bersamanya kita mulai besok, sepulang bimbingan ya Vin,” kata Andre pada Calvin. Setelah Calvin menyetujui, Andre segera melajukan sepeda motornya menuju rumahnya di Pondok Indah. Calvin lega, sepertinya Andre tidak menyadari kekurangajaran kontolnya yang mengeras seenaknya tadi.

Masih diatas tempat tidur, Calvin teringat pada apa yang pernah dikatakan Desi, sepupunya yang pernah sangat dekat dengannya. Desi adalah anak dari kakak mamanya Calvin. Tak ada saudara Mamanya Calvin selain Tante Rini, mamanya Desi. Meskipun Desi lebih tua dua tahun darinya, namun sejak kecil mereka sangat akrab. Mungkin karena mereka berdua sama-sama anak tunggal. Jadi perasaan keduanya seperti kakak adik kandung sangat dekat. Tak ada rahasia yang tak diceritakan Calvin pada Desi. Demikian pula Desi padanya. Apabila bertemu keduanya saling curhat tentang diri masing-masing. Desi paling memahami tentang Calvin, demikian juga sebaliknya.

“Jangan marah kalau gue bilang elo gay, Vin,” kata Desi satu kali padanya, sebelum ia berangkat melanjutkan kuliah ke Fakultas Ekonomi UGM tahun lalu. Pernyataan itu adalah jawaban Desi padanya atas akumulasi segala pernyataan Calvin tentang sosok laki-laki yang kerap kali diutarakannya pada sepupunya itu.

“Maksud elo?” tanya Calvin deg-degan. Tak menyangka Desi akan berkata seperti itu padanya. Dirasakannya wajahnya panas. Ia tak tahu apakah ia marah mendengar komentar Desi.

“Sebenarnya sudah lama gue pengen ngungkapin hal ini. Tapi gue ragu. Gue kuatir elo marah ke gue,” sambung Desi.

“Gue suka cewek kok Des. Buktinya gue juga ceritain ke elo kan, bagaimana perasaan gue pada Silvia, temen cewek gue di sekolah,” kata Calvin membela diri.

“Maaf kalau gue salah. Tapi perasaan gue menangkap hal yang laen saat elo berbicara soal cowok, siapa namanya, Andre ya? Ya Andre. Elo sangat bersemangat bila bercerita tentang dia. Memang elo bercerita juga tentang Silvia, tapi cerita elo tentang dia, tidak seantusias cerita elo soal Andre. Malah, menurut gue, porsi cerita Andre, lebih banyak dibandingin Silvia. Terlalu banyak hal-hal yang mempesona Andre yang elo rekam di benak elo, dibandingin Silvia. Maaf Vin............,” kata Desi lirih.

Calvin ingat, saat itu ia hanya terdiam seribu bahasa. Saat Desi memeluknya dengan sayang, dan meminta maaf dengan tulus apabila kata-katanya telah menyinggung perasaan, Calvin juga tetap diam. Mulutnya tak hendak membenarkan Desi, namun di hatinya berperang, ragu, apakah ia memang harus membenarkan atau menolak pernyataan Desi. Apakah perasaan aneh yang selalu muncul di dirinya saat memandang atau mengingat sosok Andre merupakan pembenaran dari apa yang dinyatakan Desi.

Sejak saat itu hubungannya dengan Desi mulai renggang. Selalu ada alasan diciptakannya buat menghindari Desi. Meskipun Calvin sangat menyadari Desi pasti sangat sedih atas penghindarannya itu.

Calvin mencoba menghapus sosok Andre dalam benaknya. Ia mengalihkan pikirannya dengan menceburkan diri pada aktivitas-aktivitas laki-laki disamping kegiatan sekolahnya. Namun ia tak mau melakukannya di sekolah, karena pasti ia akan bertemu dengan Andre bila melakukannya disana. Calvin kemudian memulai kembali kegiatan bela diri Tae Kwon Do yang dulu pernah ditinggalkannya saat kelas 3 SLTP. Selain itu juga ia bergabung dengan Sekolah Sepak Bola Remaja. Namun ternyata tetap saja ia tak bisa menghapuskan sosok Andre dari benaknya.

Kejadian yang dialaminya sore tadi diatas sepeda motor Andre, membuat Calvin tiba-tiba rindu untuk curhat pada Desi seperti dulu. Bolak-balik ia memandangi pesawat telpon yang ada di kamarnya. Namun perasaan bersalahnya karena telah menghindari Desi, membuatnya tak punya keberanian untuk mengangkat gagang telpon.

Capek dengan lamunannya, Calvin akhirnya tertidur. Jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan hampir pukul empat dini hari.

***

Saat istirahat sekolah, Andre mendatangi Calvin ke kelasnya. Calvin yang sedang asik berkutat dengan buku fisikanya kaget ketika Andre menepuk bahunya, “Jadi kan belajarnya pulang bimbingan nanti Vin?” tanya Andre. Cowok tampan itu langsung duduk di kursi depan meja Calvin. Lengannya yang kokoh bersandar pada sandaran kursi. Calvin menganggukkan kepalanya, mengiyakan.

“Pak Simangunsong emang gak salah milihin guru privat buat gue deh,” kata Andre lagi sambil cengar-cengir pada Calvin.

“Ndre, jangan terlalu berharap banyak dari gue dong. Banyak hal yang gue juga gak ngerti. Kita harus sama-sama belajar. Kalo gak, ya percuma aja,” jawab Calvin.

“Siap Pak Guru,” jawab Andre sambil memberi hormat layaknya prajurit pada komandannya. Tetap dengan cengiran yang membuat wajahnya semakin enak dilihat.

Sorenya sepulang bimbingan sekolah dengan berboncengan diatas sepeda motor Andre dan Calvin meluncur di jalan raya kota Jakarta yang ramai menuju rumah Calvin. Harum tubuh maskulin Andre yang menyebar dari balik jaket kulit hitamnya sungguh menggoda Calvin. Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, jantung Calvin berdebar keras. Ia sangat terangsang pada cowok ganteng yang memboncengnya ini. Kontolnya membesar lagi seperti kemaren, menempel erat di belahan bokong Andre.

[BERSAMBUNG...]

No comments:

Post a Comment

Post a Comment