My Blog List

Saturday, 13 March 2010

Petualangan Aji, Part 10

31

Ketika spermanya telah menyembur seluruhnya didalam lobang pantatku, Dwi merasakan tubuhnya sangat lemas. Pantatnya yang tadi terangkat dibantu tumpuan kedua kakinya, terhempas jatuh ke tanah. Kontolnya yang penuh cairan lendir sperma tercabut dari lobang pantatku. Dari lobang pantatku mengalir keluar spermanya, jatuh membasahi jembut dan kontolnya. Aku berdiri memandanginya. Kemudian kulirik ke sebelah. Kulihat Daniel masih terus menggenjot-genjot kontol Anton. Tak ada lagi suara mengaduh kesakitan dari mulutnya. Yang ada hanya erangan-erangan keenakan. Daniel sudah dapat merasakan kenikmatan rojokan kontol Daniel di lobang pantatnya.

Kembali pandanganku ke tubuh Dwi. Kedua tangannya terbentang lebar menunjukkan bulu ketiaknya yang basah oleh keringat. Kedua pahanya sedikit terbuka, kontolnya yang sudah lemas basah oleh lendir sperma, demikian juga jembutnya. Matanya terpejam, dia sedang menikmat kenikmatan orgasmenya tadi. Aku duduk disebelah Dwi. Tanganku mencari-cari celah lobang pantatnya. Dwi kaget ketika merasakan ada jari tangan yang menyentuh celah lobang pantatnya. Dibukanya matanya. Ketika dilihatnya aku senyum padanya, Dwi juga membalasku dengan senyuman.

Tanganku kembali bermain-main dicelah lobang pantatnya yang dipenuhi oleh bulu-bulu halus. Jari tengahku mencoba masuk menerobos lobang pantatnya yang terasa lembab. Kucoba menyodok lobang pantat itu. Dwi mengerang. Kakinya tiba-tiba membuka semakin lebar. Dwi dapat menerima sodokanku kayaknya.

Kini aku mulai mengerjai lobang pantatnya. Jari-jariku mencoba menyibak lobang pantatnya. Menyodok-nyodok lobang itu dengan jariku. Menjilati dengan lidahku, kemudian lidahku juga menyodok-nyodok lobang pantat itu. Dwi menggelinjang-gelinjang. Kontolnya kembali menegak. Kubimbing Dwi untuk membalikkan tubuhnya menelungkup. Dwi kuarahkan sehingga posisinya kini seperti orang bersimpuh sujud dengan kepala ke tanah dan pantat menungging ke atas sehingga lobang pantatnya menganga lebar. Kujilati lobang pantat Dwi sepuas-puasnya.

Disebelahku Anton baru saja menuntaskan hasratnya kembali. Spermanya disemprot-semprotkannya ke wajah Daniel yang dengan penuh nafsu mengangakan mulutnya lebar-lebar menyambut sperma Daniel itu. Setelah seluruh sperma itu tersembur Daniel menyapukan sperma yang ada dalam mulutnya ke perut Anton dengan lidahnya. Diciuminya daerah perut dibawah pusat Anton dengan penuh kemesraan.

Aku sekarang sedang dalam keadaan setengah berdiri dengan betis tertekuk. Kontolku sudah kuarahkan lurus ke lobang pantat Dwi yang terkuak. Tangan kiriku memegang belahan pantatnya. Tangan kananku mengarahkan kontolku untuk menjebol lobang sempit miliknya itu. Kusentuhkan kepala kontolku ke pintu lobang itu. Kugesek-gesekkan. Dwi merintih. Kusodok pelan, lobang pantatnya menciut kedalam. Kusodok terus. Kepala kontolku mulai menghilang di dalam lobang sempit itu. Dwi semakin mengerang. Kusodokkan lagi. Dwi bertambah mengerang, tubuhnya mulai menggeliat. Bintik-bintik keringat mulai membasahi dikeningnya.

Ahhh.......kenapa begitu nikmat rasanya menjebol lobang pantat perjaka. Begitu sempit, seret, sehingga kontol terasa dicengkeram sangat nikmat. Bulu-bulu disekitar lobang pantat ini juga menambah rasa nikmat, akibat gesekannya di batang kontol.

Hingga menjelang subuh kupuaskan diriku dengan menggagahi satu persatu ketiga juniorku ini. Setelah selesai dengan Dwi kemudian kulanjutkan dengan Anton. Lalu Daniel. Kembali ke Dwi, Anton, Daniel, terus berulang-ulang sampai kontolku terasa kaku dan kakiku terasa lemas karena menggenjot terus. Berbagai gaya kucobakan kepada mereka.

Mereka bertiga pun nampaknya sangat ketagihan dengan pengalaman baru ini. Bila aku sedang mengentot salah satu dari mereka, maka dua yang lainpun akan bermain sendiri. Aku tak merasa perlu untuk membangunkan Angga menggantikanku berjaga. Cukup aku saja yang ber”patroli” bersama ketiga junior ini. Untuk apa mengganggu Angga yang sedang pulas. Hehehehe. Mengakhiri “patroli” kami ngentot berempat. Aku mengentot Dwi yang menungging didepanku, Daniel mengentotku dari belakang, dan Anton dibelakang Daniel. Lima menit sekali yang berada di posisi terdepan pindah kebelakang. Demikian hingga akhirnya secara bersama-sama kami mengeluarkan sperma.

32

Pagi itu aku tidur sepuasnya di tenda senior hingga pukul 09.00 pagi. Letih sekali rasanya seluruh tubuhku. Teman-teman yang tahunya kalau aku jaga malam sendiri (sstttt..lo jangan bilang ke mereka ya, hehe) tak mau mengganggu tidurku. Ketika aku terbangun segera aku mandi ke sungai. Sendiri. Kembali dari sungai Irfan sudah menyiapkan Indomie telor rebus untukku. Enak banget ada yang ngelayanin seperti ini. Dia menemani aku sarapan sambil tersenyum-senyum memandangku.

“Ada apa?” tanyaku padanya.

“Enggak,” katanya sambil senyum-senyum malu.

“Pengen lagi?”

Irfan mengangguk malu-malu. “Jangan hari ini ya, capek banget. Entar aja udah balik ke Jakarta, ya,” kataku lembut padanya. Irfan kembali mengangguk malu-malu.

Sekembali ke Jakarta aku jadi punya fans. Irfan dan ketiga junior itu. Apapun yang kuinginkan pasti akan segera mereka penuhi. Sebagai imbalannya aku harus siap untuk mengentoti mereka kapanpun mereka inginkan. Kamar mandi, meja dan kursi kelas, ruang perpustakaan dan berbagai tempat lainnya adalah saksi bisu tempatku melampiaskan nafsu dengan mereka sepulang sekolah. Untuk pengamanan, secara rutin mereka berempat memberikan sejumlah uang kepada Mas Anto penjaga sekolah kami. Karenanya kami bisa bebas menjerit, mendesah, mengerang tanpa kuatir ada yang mengintai.

Mas Anto tidak akan mungkin membocorkan kelakuan mesum kami ini. Karena sekali waktupun bila Mas Anto yang sudah berumur 29 tahun dan belum beristri ini, lagi mentok, salah satu dari kami siap untuk melayani nafsu sexnya yang juga hiper itu. Hehehehehe.

Masa-masa itu begitu indah buatku. Selalu mebuatku terkenang. Dino sudah tak di Jakarta lagi sekarang, ia kuliah di Australia bersama-sama dengan Grace. Kevin katanya akan menyusul juga kesana setelah lulus nanti. Cinta segitiga mereka akan berlanjut terus kayaknya. Irfan juga lulus PTN di Bandung. Bila dia kembali ke Jakarta saat liburan, pasti dia akan menemuiku.

Ketiga juniorku masih sekolah. Mereka pun masih sering menghubungiku, mengajak berpesta sex dengan mereka. Tentu saja kalau ada waktu tak pernah kulewatkan ajakan mereka itu.

Mas Bayu kini sudah memiliki seorang putra yang ganteng. Dia masih tetap bekerja di Kantor Tuan Arifin Wijaya. Dengannya aku sudah jarang berhubungan sex, tapi tak masalah karena jika masih bisa ngentotin remaja-remaja ganteng kenapa mesti cari yang lebih tuaan, hehehehe.

Aku sendiri masih tinggal di rumah Tuan Arifin Wijaya. Kepergian Dino ke Australia membuatku semakin disayang oleh mereka. Aku diperlakukan seperti anak kandung mereka sendiri disini. Malah aku sudah diijinkan membawa mobil sendiri ke kampusku di Salemba. Aku kini sudah berkuliah di Fakultas Kedokteran sebuah PTN di Jakarta.

Karena pada dasarnya aku emang biseks (atau lebih tepat straight hipersex kali) maka tak salah kan kalo memek Mbak Ayu masih sering jadi sasaranku. Tapi ngentot dengannya aku lebih hati-hati, aku selalu menggenakan kondom. Bukan apa-apa, kalo dia hamil kan berabe.

Petualangan sexku masih terus berlanjut. Tapi aku akan menceritakannya pada kesempatan lain saja ya. Sekarang aku mau menghapalkan anatomi tubuh manusia dulu dalam bahasa latin. Besok ada kuis nih di kampus. Kalau penis dan vagina aku sih sudah hapal luar kepala, yang lainnya ini yang susah.

Sementara Sampai Disini Dulu

No comments:

Post a Comment

Post a Comment