My Blog List

Saturday, 13 March 2010

Cerita Remaja (5)

BAB III ANAK-ANAK BASKET

Meskipun bukan anggota basket, tapi Calvin kini tak asing lagi dengan komunitas itu. Pergaulan anak-anak basket yang terkenal sangat eksklusif di SMU Dwi Warna dapat dimasuki olehnya.

Ini semua berawal dari ajakan Andre untuk menyaksikan latihan basket di sekolah. Setelah mendengar cerita Andre tentang kedoyanan anak-anak basket pada memek cewek dan silit cowok itu, Calvin jadi pengen ikutan gabung berpesta sex dengan anak-anak basket yang ganteng-ganteng dan macho-macho itu. Lalu ia mengutarakan keinginannya itu pada Andre saat mereka sedang melepas lelah seusai memacu birahi di kamar Andre selepas belajar bersama.

Andre menyambut keinginan Calvin itu dengan gembira. “Gue omongin ke anak-anak dulu ya,” kata Andre sambil mencium pipi temannya itu dengan sayang. “Lagian gue pengen latihan lagi nih, udah lama banget gak pernah latihan.”

“Pengen latihan karena emang udah lama gak latihan, atau karena udah lama gak ngentot rame-rame dengan mereka?” goda Calvin.

“Dua-duanya deh. Hehehe,” jawab Andre manyun. Calvin segera melumat bibir manyun itu dengan penuh semangat.

Ternyata anak-anak basket setuju. Mereka menjadwalkan acara pesta sex seusai latihan basket minggu pagi.

Maka, di suatu minggu pagi yang cerah, Andre mengajak temannya itu menyaksikan latihan basket di sekolah. Calvin sempat gelisah karena menyangka acara pesta sex yang mereka rencanakan akan batal, karena sampai jam sembilan pagi menunggu, Andre tidak nongol-nongol juga di rumah. Padahal mereka berjanji berangkat jam setengah delapan pagi. Andre telat karena sedang asik menonton persenggamaan mamanya dengan ajudan papanya sendiri, Mas Dharma. Ketika akhirnya Andre datang juga saat jam menunjukkan hampir pukul sepuluh pagi, Calvin benar-benar merasa sangat bahagia. Apa yang dibayang-bayangkannya selama menunggu Andre akhirnya akan dirasakannya juga.

Minggu pagi itu anak-anak basket yang menghadiri latihan basket lebih ramai dari biasanya. Anggota-anggota yang sudah jarang latihan karena mempersiapkan diri untuk persiapan ujian akhir dan SPMB seperti Andre, banyak juga yang datang. Tak kurang dari tiga puluh remaja hadir dalam latihan basket kali ini. Rupanya berita dari mulut ke mulut tentang akan diadakannya pesta sex khusus, dengan menghadirkan Calvin sebagai bintang tamu sudah menyebar secara luas di antara anggota basket.

Melihat begitu banyaknya anggota basket yang hadir, Calvin sempat ciut juga nyalinya.

“Gila Ndre. Rame banget, mana kuat gue,” bisiknya pada Andre.

“Habisnya selebritisnya datang sih. Santai aja men. Makin rame makin seru tau,”

“Sadis!”

“Hehehehe,”

Selama latihan basket dilangsungkan, anak-anak basket semuanya berlatih secara bergantian. Diantara mereka tak ada satupun yang menghiraukan kehadiran Calvin. Semuanya cuek dan sibuk berlatih, atau menonton dari tepi lapangan. Bila Andre ikut turun bermain ke lapangan, maka Calvin hanya duduk sendiri. Tak ada yang menyapanya, tak ada yang mengajaknya ngobrol, atau sekadar senyum doang. Calvin kembali ragu, apakah acara pesta sex memang benar-benar akan dilangsungkan seusai latihan atau tidak.

“Jadi apa enggak sih Ndre?” bisik Calvin, saat Andre mendekatinya untuk berisitirahat sejenak, seusai latihan.

“Apanya?” tanya Andre kemmbali, sambil tangannya mengelap keringat yang membasahi wajah gantengnya.

“Pesta sexnya,”

“Oooo, jadi dong, emang kenapa? Udah gak sabar ya?” goda Andre.

“Bukan gitu. Kok anak-anak cuek semua ke gue?”

“Maksud elo?”

“Katanya gue selebritisnya hari ini, kok anak-anak satupun gak ada yang nya gue?”

“Hehehehe. Ge er banget sih. Pengen disapa atau pengen digodain mereka?”

“Yeeeee...., bukan gitu,”

“Santai aja, anak-anak memang begitu, kalau udah latihan semuanya serius. Gak ada yang diperhatiin kecuali permainan di lapangan. Entar kalo udah ngentot ya serius juga. Gak ada yang diperhatiin selain ngentot, hehehehe. Yang penting, elo siap-siapin fisik aja ya. Tu anak-anak satu per satu bakal ngerjain elo, sampe elo pingsan, hehehe,”

Hampir jam dua belas siang akhirnya latihan basket usai. Semua anggota basket istirahat sambil minum-minum dan menyantap makanan kecil. Tak ada lagi yang menggenakan kaos basket. Semuanya bertelanjang dada memamerkan otot-otot remaja mereka yang mengkilap karena basah oleh keringat. Mata Calvin melirik kian kemari bak penari Bali, memandangi mereka semua. Jakunnya naik turun saking nafsunya menyaksikan pemandangan bagus di depannya itu.

“Guys, kenalin teman gue nih. Calvin,” seru Andre tiba-tiba pada anak-anak basket yang sedang asik melepas lelah. Serempak ketiga puluh pasang mata itu menoleh pada Calvin, menatapnya tajam dari atas ke bawah, membuat cowok ganteng itu salah tingkah.

“Boleh juga,”

“Lumayan,”

“Udah punya cewek belom?”

“Pemalu banget,”

“Anak mami ya,”

Segala macam komentar dari mulut anak-anak basket segera memenuhi ruangan. Calvin semakin salah tingkah. Apalagi ketika komentar yang timbul semakin mengarah-arah ke percabulan. Mukanya merah padam, sementara Andre yang duduk disampingnya, hanya cengar-cengir mesum.

“Masih perjaka ya Ndre?”

“Udah lo kerjain dong Ndre,”

“Gede gak?”

“Masih sempit dong,”

Remaja-remaja SMU itu terus berkomentar. Sambil tertawa-tawa nakal. Malah ada yang mulai meremas-remas selangkangannya sendiri. Jantung Calvin berdebar keras, antara malu dan nafsu yang semakin menggelora.

Kemudian salah seorang dari mereka mendekati tempat Calvin dan Andre duduk. Namanya David, siswa turunan China yang masih duduk di kelas dua. Wajahnya imut, mirip Ekin Cheng pemain film Hong Kong. Kemudian ia berdiri tepat di hadapan Andre. Tanpa banyak bicara, dengan sekali hentakan anak itu menurunkan celana basket sekaligus celana dalamnya. Kontolnya yang besar dan tidak disunat itu langsung disorongkannya ke bibir tipis Andre. Sambil tersenyum Andre segera memasukkan kontol itu ke dalam mulutnya. Anak-anak basket yang lain tertawa-tawa riuh. Calvin pura-pura membuang muka. Pesta sex dimulai sudah.

“Kok malu-malu sih? Gue tau kalo elo juga pengen,” kata David sambil menarik dagu Calvin agar dapat menyaksikan oral yang dilakukan Andre pada kontolnya. Calvin hanya mampu menelan ludahnya menyaksikan bagaimana mulut Andre asik memuluti batang besar kemerahan itu. Tak disadarinya kalau dua orang anak basket lainnya mendekati tempat duduknya.

“Kalo pengen, langsung aja Vin. Nih kami beri elo dua sekaligus,” itu suara Dhimas. Calvin menolehkan kepalanya ke atas ke arah datangnya suara itu. Dua wajah ganteng milik Dhimas dan Taufik tersenyum mesum padanya. Kepala kontol mereka sudah menggesek-gesek pipinya.

“Cicipin nih kontol gue. Gak usah malu-malu,” kata Taufik, anak 3 IPA asal Ternate. Calvin menurunkan pandangannya. Didepannya sudah terhidang dua batang kontol besar milik dua temannya itu. Kontol Dhimas yang duduk di kelas 3 IPS itu juga tidak disunat seperti David. Sedangkan kontol Taufik disunat.

“Kulum dong Vin, hmmmppppp,” kata Andre padanya, sambil terus memuluti batang kontol David. Dengan ragu Calvin menggenggam kedua batang kontol itu dengan kedua tangannya. Tangan kiri menggenggam milik Dhimas, sedangkan tangan kanannya menggenggam milik Taufik. Ia meleletkan lidahnya, menjilat kepala kontol itu satu per satu bergantian.

“Gitu dong,” kata Dhimas dan Taufik serempak. Mereka tertawa-tawa menyaksikan apa yang dilakukan Calvin. Anak-anak basket yang lain juga mulai sibuk memuaskan birahi masing-masing. Mereka saling merangsang. Ada yang langsung mengulum kontol milik temannya. Ada yang asik menjilat-jilat bagian-bagian tubuh milik temannya, seperti pentil, dada, ketiak, perut dan lain sebagainya. Suasana lapangan basket sudah berubah jadi ajang percabulan remaja-remaja gila sex. Suara erangan, desahan, ditingkahi dengan tawa-tawa renyah mereka memenuhi ruangan.

Calvin semakin bersemangat. Kini dua batang kontol itu sudah asik dikulumnya. Kadangkala ia mencoba memasukkan sekaligus dua batang kontol itu. Dhimas dan Taufik mengerang semakin keras. Mereka sangat keenakan oleh perlakuan Calvin. Jemari tangan mereka sibuk meremas-remas rambut kepala Calvin.

Andre yang duduk di sebelah Calvin sudah mulai meningkatkan aktivitasnya. Mulut dan lidahnya asik melakukan rimming di celah pantat David. Cowok kelas dua itu merem melek keenakan dalam posisi mengangkang membelakangi Andre. Tubuhnya membungkuk seperti orang sedang sholat, kedua tangannya bertumpu pada betisnya. Sementara itu, tubuh atletis Andre asik dijilati oleh Ruben dan Robin. Dua cowok macho kembar identik yang masih duduk di kelas satu. Sesekali Calvin melirik Andre yang meringis-ringis keenakan oleh ulah kedua cowok kembar yang kaya bulu-bulu halus itu. Dalam hatinya ia ingin juga diperlukan seperti itu.

Wisnu kemudian mendekati Calvin, Dhimas, dan Taufik. Mulutnya langsung menjilati dada Dhimas dan Taufik bergantian. “Gantian dong, gue dikulum Calvin juga,” katanya. Dhimas lalu menarik batang kontolnya yang penuh ludah dari mulut Calvin. Wisnu segera menggantikan posisi Dhimas. Sedangkan Dhimas kemudian duduk disebelah Calvin. Kepalanya langsung menyantap batang kontol Calvin.

Sejenak Calvin terperangah memandang perkakas Wisnu. Apa yang dikatakan Andre padanya ternyata benar. Batang kontol cowok Bali itu benar-benar besar dan diramaikan dengan urat-urat. Berwarna gelap dan dipenuhi jembut keriting yang lebat. Tak berlama-lama Calvin langsung memasukkan batang besar itu ke dalam mulutnya. Kemudian berkonsentrasi menyelomoti batang besar itu. Batang Taufik yang kalah gede dari milik Wisnu dicuekkannya.

Taufik kemudian mengikuti Dhimas berbaring disebelah Calvin. Selanjutnya dua cowok itu asik menyelomoti batang kontol Calvin.

Pesta sex semakin panas saja. Anak-anak basket yang lain juga pengen merasakan mulut Calvin. Sedang asik-asiknya Calvin memuluti peralatan Wisnu tiba-tiba tubuhnya ditarik oleh seseorang. Batang kontol Wisnu yang belepotan ludahnya tercerabut dari mulutnya.

“Apa-apaan sih lo Chan? Gangguin orang yang lagi asik aja lo,” protes Wisnu pada Chandra, cowok yang tadi menarik tubuh Calvin.

“Iya nih, Chandra. Gua dan Taufik kan lagi asik juga,” sambung Dhimas.

“Hehehehe. Gantian dong. Anak-anak laen kan juga pengen ngerasain mulut binal si Calvin. Liat tuh,” tanggap Chandra cuek. Ia menarik Calvin ke tengah lapangan. Disana sudah berbaris tak kurang dari sepuluh orang remaja ganteng dengan menggenggam dan mengocok-ngocok batang kontol mereka yang mengacung tegak. Mereka cengengesan memandangi Calvin, Wisnu, Dhimas, dan Taufik.

“Hehehe. Jangan makan sendiri dong,” kata Andre ditengah-tengah permainannya dengan David, Ruben, dan Robin. Saat ini ia sedang asik mengulumi batang kontol Ruben. Sementara Robin mengulum kontolnya dan David mengulum kontol Robin.

Tak lama Calvin sudah sibuk melakukan oral pada sepuluh remaja yang berangkulan tangan dibahu dan berdiri rapat mengelilinginya. Ia tak lagi memperhatikan siapa saja pemilik kontol-kontol besar yang tertawa-tawa mengelilinginya itu. Jantungnya berdegup kencang karena sangat terangsang. Gimana enggak terangsang? Sepuluh batang kontol besar mengelilingi dirinya. Saat mulutnya serius dengan satu atau dua batang kontol, batang-batang kontol yang lain menggodanya dengan menggesek-gesek kepalanya, lehernya, pipinya. Meminta untuk segera dikulum oleh Calvin.

Tiba-tiba terdengar suara racauan yang keras dari arah tiang ring basket. “Ohhhh..... yessshh......., lebih cepathh....... ohhhh.......... kerashhh......... ohhhhhhhh........,”

Calvin menghentikan kulumannya sejenak. Ia menoleh ke arah racauan itu. Di tiang ring dilihatnya Dhimas sedang disodomi oleh Wisnu dengan gerakan pantat yang cepat dan keras. Suara tepukan pahanya beradu dengan buah pantat Dhimas bergema memenuhi ruangan. Racauan itu berasal dari mulut Dhimas yang merem melek keenakan. Sementara itu Taufik asik mengulumi batang kontol Dhimas yang tegak.

“Pengen di sodomi juga Vin?”

“Sabar men, entar lo dapat jatah juga,”

Cowok-cowok yang mengelilingi Calvin sibuk berkomentar melihat reaksi Calvin menyaksikan persenggamaan yang dilakukan oleh Wisnu dan Dhimas.

Sementara itu di sudut biru, eh di sudut yang lain, Andre juga sudah asik melakukan penetrasi pada lobang pantat David yang tadi sudah di rimmingnya. David menungging di lantai lapangan basket, disodomi oleh Andre. Sementara Andre disodomi oleh Robin. Sedangkan Ruben berbaring telentang dibawah David, mulutnya dientot oleh batang kontol David. Mereka berempat bergerak ritmis sambil mengerang-erang dan meracau keenakan.

Kembali Calvin ditarik oleh seseorang. Saat itu ia sedang asik mengulum batang kontol Chandra. Rupanya yang menariknya kali ini adalah Randy.

“Mau ngapain Ran?” tanya Chandra.

“Gak bosen lo disepong mulu? Sekarang udah waktunya ngentotin dia,” jawab Randy, si imut yang wajahnya dihiasi kumis, cambang dan jenggot tipis itu. Randy ini turunan Pakistan, sekilas wajahnya mirip dengan Hrithik Roshan pemain film India yang sedang naik daun itu.

Randy kemudian menyuruh Calvin menungging. Mulutnya segera mempereteli lobang pantat Calvin yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Celah sempit kemerahan milik Calvin dijilatinya dengan penuh nafsu. Dalam kesehariannya di sekolah Randy ini terkenal sangat dingin dan alim. Namun ternyata kalau sudah nafsu, seperti saat ini, dia sangat liar dan buas. Lidahnya menari-nari menerobos celah sempit Calvin.

Aksi Randy disusul oleh Razak, cowok kelas satu blasteran Betawi dan Padang. Mulutnya segera merimming lobang pantat Randy. Dibelakang Razak ada Devon, cowok kelas dua yang juga turunan China seperti David. Dibelakangnya ada Chandra, lalu cowok lain, hingga akhirnya sepuluh cowok yang tadi menggilir Calvin kini asik saling merimming seperti sedang bermain kereta api. Mulut, lidah, dan jari jemari mereka sibuk mengerjai celah lobang pantat milik teman didepannya.

Setelah merasa cukup melakukan rimming, dengan arahan dari Randy, mereka kemudian melakukan sodomi berantai dalam posisi menyikukan kaki di lantai. Calvin paling depan disodomi oleh Randy. Tangan Randy sibuk mengocok-ngocok batang kontol Calvin.

Dalam waktu berselang lima menit, mereka kemudian bergantian menyodomi Calvin dalam posisi tetap berantai. Rupanya permainan mereka membuat teman-teman yang lain ikut bergabung. Wisnu langsung mengambil posisi di depan Calvin. Batang kontol Calvin segera dibenamkannya ke dalam lobang pantatnya. Taufik tak mau ketinggalan. Dimasukkannya batang besar Wisnu ke lobang pantatnya sebelum keduluan Dhimas. Akhirnya Dhimas disodomi oleh Taufik. Andre menyusul memasukkan batang kontol Dhimas sambil terus mengentot David. Didepan David ada Ruben yang menyodomi kembarannya sendiri, Ruben.

Sodomi berantai itu akhirnya disudahi dengan orgasme bersama didalam lobang pantat teman yang berada didepannya. Ruben yang berada dibarisan paling depan menyemburkan spermanya ke lantai.

Selesai Bab III

4 comments: